A. Hakikat
Pembelajaran
Pembelajaran
merupakan seperangkat tindakan yang dirancang untuk mendukung proses belajar
peserta didik, dengan memperhitungkan kejadian-kejadian ektrenal yang berperan
terhadap rangkaian kejadian-kejadian eksternal yang berlangsung yang berperan
terhadap rangkaian kejadian-kejadian internal yang berlangsung didalam peserta
didik. (Windel dalam darto, 2013:7)
Pembejaran
dapat didefinisikan sebagai suatu sistem atau proses membelajarkan subjek
peserta didik/pembelajar yang direncanakan atau didesain, dilaksanakan, dan
dievaluasi secara sistematis agar subjek didik/pembelajaran dapat mencapai
tujuan-tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien. (komalasari, 2013:7)
Pembelajaran
adalah unsur kombinasi yang tersusun meluputi unsur-unsur manusiawi, material,
fasilitas, perlenekapan dan prosedur yang saling mempengearuhi mencapai tujuan
pembelajaran. (Hamalik, 1994).
Berdasarkan
pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran merupakan proses
yang dipersiapkan agar peserta didik mengalami proses belajar dan evaluasi
sehingga peserta didik mendapatkan makna dalam proses belajar dan tujuan
pembelajar dapat tercapai.
B. Model
Desain Pembelajaran
Desain pembelajaran pada dasarnya adalah suatu
proses yang bersifat linear yang diawali dari penentuan kebutuhan, kemudian
mengembangkan rancangan untuk merespon kebutuhan tersebut, selanjutnya
rancangan tersebut diujicobakan dan akhirnya dilakukan proses evaluasi untuk
menentukan hasil tentang efektivitas rancangan (desain) yang disusun.
Gagne (1992) menjelaskan bahwa desain pembelajaran
disusun untuk membantu proses belajar siswa, dimana proses belajar itu memiliki
tahapan segera dan tahapan jangka panjang. Desain pembelajaran sebagai proses
rangkaian kegiatan yang bersifat linear tersebut digambarkan oleh Sambangh
(2006).
1.
Menentukan
kebutuhan
2.
Pengembangan
desain untuk menjawab kebutuhan
3.
Uji
coba
4.
Evaluasi
hasil (kembali lg ke menentukan kebutuhan)
Pada konteks
pembelajaran, desain instruksional dapat diartikan sebagai proses yang
sistematis untuk memecahkan persoalan pembelajaran melalui proses perencanaan
bahan-bahan pembelajaran beserta aktivitas yg harus dilakukan, perencanaan
sumber-sumber pembelajaran yang dapat digunakan serta perencanaan evaluasi
keberhasilan. Pendekatan yg dapat digunakan dalam desain pembelajaran adalah
pendekatan sistem, yang mencakup analisis tentang perencanaan, analisis
pengembangan, analisis implementasi dan analisis evaluasi. Gagne (1992)
menjelaskan bahwa desain pembelajaran disusun untuk membantu proses belajar
siswa, dimana proses itu memiliki tahapan asegera dan tahapan jangka panjang.
Menurut Gagne, belajar seseorang dapat dipengaruhi oleh dua faktor, yakni
faktor internal dan eksternal.
1.
Faktor
internal adalah faktor yg berkaitan dengan kondisi yang dibawa atau datang dari
dalam individu siswa, seperti kemampuan dasar, gaya belajar seseorang, minat
dan bakat serta kesiapan setiap individu yang belajar.
2.
Faktor
eksternal adalah faktor yang datang dari luar individu, yakni berkaitan dengan
penyediaan kondisi atau lingkungan yang didesain agar siswa belajar. Desain
pembelajaran berkaitan dengan faktor eksternal ini, yakni pengaturan lingkungan
dan kondisi yg memungkinkan siswa dapat belajar.
Desain
instruksional berkenaan dengan proses pembelajaran yg dapat dilakukan siswa
untuk mempelajari suatu materi pelajaran yg di dalamnya mencakup rumusan tujuan
yg harus dicapai atau hasil belajar yg diharapkan, rumusan strategi yg dapat
dilaksanakan untuk mencapai tujuan termasuk metode, teknik dan media yg dapat
dimanfaatkan serta teknik evaluasi untuk mengukur atau menentukan keberhasilan
pencapaian tujuan. Mendesain pembelajaran harus diawali dengan studi kebutuhan,
karena berkenaan dengan upaya untuk memecahkan persoalan yg berkaitan dengan
proses pembelajaran siswa dalam mempelajari suatu bahan atau materi
pembelajaran.
Kriteria desain
instruksional
Desain instruksional yg
baik harus memiliki beberapa kriteria diantaranya:
a.
Berorientasi
pada siswa
Ketika kita mendesain pembelajaran, maka pertanyaan
pertama yang harus kita ajukan adalah bagaimana desain yg kita kembangkan itu
mampu membantu siswa dalam mempelajari bahan pembelajara dan memudahkan siswa
belajar. Beberapa hal yg perlu dipahami tentang siswa diantaranya:
1)
Kemampuan
dasar
Pemahaman kemampuan dasar yg dimiliki siswa perlu
dipahami untuk menentukan dari mana sebaiknya kita mulai mendesain
pembelajaran. Dalam menentukan tujuan pembelajaran yg harus dicapai selamanya
disesuaikan dengan kemampuan yg telah atau harus dimiliki terlebih dahulu oleh
setiap siswa. Sehingga desain pembelajaran dirancang sesuai dengan potensi dan
kompetensi yang telah dimiliki oleh siswa. Dengan kata lain desain tidak
dirancang semata-mata oleh kemauan guru saja.
2)
Gaya
belajar
Gaya belajar ada 3 tipe, yakni tipe auditif, tipe
visual, dan tipe kinestetis. Siswa yg bertipe auditif akan dapat menangkap
informasi lebih banyak melalui pendengaran. Dengan demikian maka desain
pembelajaran dirancang agar siswa banyak
mendengar melalui berbagai media yang dapat di dengar seperti radio, recorder,
video dll.
b.
Berpijak
pada pendekatan sistem
Melalui pendekatan sistem bukan saja dapat
diprediksi keberhasilannya, akan tetapi juga akan terhindar dari
ketidakpastian. Hal ini disebabkan karena melalui pendekatan sistem dari awal
sudah diantisipasi berbagai kendala yg mungkin dapat menghambat terhadap
pencapaian tujuan. Atas dasar itulah maka pendekatan sistem dalam desain
instruksional merupakan pendekatan ideal yg dapat dilakukan oleh para desainer
pembelajaran.
c.
Teruji
secara empiris
Sebelum digunakan, sebuah desain instruksional harus
teruji dahulu efektivitas dan efisiensinya secara empiris. Melalui pengujian
secara empiris dapat dilihat berbagai kelemahan dan berbagai kendala yg mungkin
muncul sehingga jauh sebelumnya dapat diantisipasi. Selain itu melalui
pengkajian secara ilmiah dapat meyakinkan para pengembang pembelajaran untuk
menggunakannya.
Hubungan
perencanaan dan desain pembelajaran
Perencanaan merupakan kegiatan menerjemahkan
kurikulum sekolah ke dalam kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Perencanaan
pembelajaran dapat berupa perencanaan perhari, perminggu, persemester, pertahun
sesuai dengan tujuan kurikulum yg hendak dicapai.
Perencanaan lebih menekankan pada proses
pengembangan atau penerjemahan suatu kurikulum sekolah, sedangkan desain
menekankan pada proses merancang program pembelajaran untuk membantu proses
belajar siswa. Dengan demikian, pertimbangan dalam menyusun dan mengembangkan
sebuah perencanaan pembelajaran adalah kurikulum yang berlaku di suatu lembaga.
Sedangkan, pertimbangan dalam menyusun dan mengembangkan suatu desain
pembelajaran adalah siswa itu sendiri sebagai individu yang akan belajar dan
mempelajari bahan pelajaran. Artinya ketika kita akan menyusun dan
mengembangkan sebuah perencanaan pembelajaran, maka kita perlu bertanya
terlebih dahulu bagaimana desain kurikulum yang ada di lembaga pendidikan.
Sedangkan, kalau kita menyusun dan mengembangkan sebuah desain pembelajaran
kita perlu bertanya bagaimana agar siswa dapat mempelajari suatu bahan
pelajaran dengan mudah.
Model-model Desain
Instruksional
Beberapa model desain
yang dikembangkan oleh para ahli:
1.
Model
Kemp
Model desain sistem instruksional yg dikembangkan
oleh Kemp merupakan model yg membentuk siklus. Menurut Kemp, pengembangan
desain sistem pembelajaran terdiri atas komponen2 yang dikembangkan sesuai
dengan kebutuhan, tujuan dan berbagai kendala yang timbul. Mengembangkan sistem
instruksional, menurut Kemp dari mana saja bisa, asalkan urutan komponen tidak
diubah dan setiap komponen itu memerlukan revisi untuk mencapai hasil yg
maksimal. Komponen-komponen dalam suatu desain instruksional menurut Kemp
adalah:
a.
Hasil
yang ingin dicapai
b.
Analisis
tes mata pelajaran
c.
Tujuan
khusus belajar
d.
Aktivitas
belajar
e.
Sumber
belajar
f.
Layanan
pendukung
g.
Evaluasi
belajar
h.
Tes
awal
i.
Karakteristik
belajar
Kesembilan
komponen itu merupakan suatu siklus yang terus-menerus direvisi setelah
dievaluasi baik evaluasi sumatife maupun formatife dan diarahkan untuk
menentukan kebutuhan siswa, tujuan yang ingin dicapai, prioritas, dan berbagai
kendala yang muncul.
2.
Model
Banathy
Model ini memandang bahwa penyusunan sistem
instruksional dilakukan melalui tahapan-tahapan yang jelas. Terdapat 6 tahapan
dalam mendesain suatu program pembelajaran yakni:
a.
Menganalisis
dan merumuskan tujuan, baik tujuan pengembangan sistem maupun pengembangan
spesifik. Tujuan merupakan sasaran dan arah yang harus dicapai oleh siswa atau
peserta didik.
b.
Merumuskan
kriteria tes yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Item tes dalam
tahap ini dirumuskan untuk menilai perumusan tujuan. Melalui rumusan tes dapat
menyakinkan kita bahwa setiap tujuan ada alat untuk menilai keberhasilannya.
c.
Menganalisis
dan merumuskan kegiatan belajar, yakni kegiatan menginventarisasi seluruh
kegiatan belajar mengajar, menilai kemampuan penerapannya sesuai dengan kondisi
yang ada serta menentukan kegiatan yang mungkin dapat diterapkan.
d.
Merancang
sistem, yaitu kegiatan menganalisis sistem menganalisis setiap komponen sistem,
mendistribusikan dan mengatur penjadwalan.
e.
Mengimplementasikan
dan melakukan kontrol kualitas sistem, yakni melatih sekaligus menilai
efektivitas sistem, melakukan penempatan dan melaksanakan evaluasi
f.
Mengadakan
perbaikan dan perubahan berdasarkan hasil evaluasi.
Langka 1 s.d 4
merupakan tahapan dalam proses perencanaan, sedangkan tahap 5 s.d 6 adalah
tahap pelaksanaan dari perencanaan yang sudah dirumuskan.
3.
Model
Dick and Cery
Menurut model ini sebelum desainer merumuskan tujuan
khusus yakni performance goals, perlu menganalisis pembelajaran serta
menentukan kemampuan awal siswa terlebih dahulu. Manakala telah dirumuskan tes
dalam bentuk Criterion Reference Test, artinya tes yang mengukur kemampuan
penguasaan tujuan khusus. Untuk mencapai tujuan khusus selanjutnya dikembangkan
strategi pembelajaran, yakni skenario pelaksanaan pembelajaran yang diharapkan
dapat mencapai tujuan secara optimal, setelah itu dikembangkan bahan-bahan pembelajaran
yang sesuai dengan tujuan. Langkah terakhir dari desain ini adalah melakukan
evaluasi, yakni evaluasi formatife dan evaluasi sumative.
Evaluasi formatife berfungsi untuk menilai
efektivitas program dan evaluasi sumatife berugnsi untuk menentukan kedudukan
setiap siswa dalam penguasaan materi pelajaran. Berdasarkan hasil evaluasi
inilah selanjutnya dilakukan umpan balik dalam merevisi program pembelajaran.
4.
Model
PSSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional)
Model PSSI adalah model yang dikembangkan di
Indonesia untuk mendukung pelaksanaan kurikulum 1975. PSSI berfungsi untuk
mengefektifkan perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran secara
sistematis, untuk dijadikan sebagai pedoman bagi guru dalam melaksanakan proses
belajar mengajar.
PSSI terdiri dari 5
tahap, yakni:
a.
Merumuskan
tujaun, yakni kemampuan yang harus dicapai oleh siswa. Ada 4 syarat dalam
perumusan tujuan ini yakni harus operasional, artinya tujuan yang dirumuskan
harus spesifik atau dapat diukur, berbentuk hasil belajar bukan proses belajar,
berbentuk perubahan tingkah laku dan dalam setiap rumusan tujuan hanya satu
bentuk tingkah laku.
b.
Mengembangkan
alat evaluasi, yakni menentukan jenis tes dan menyusun item soal untuk
masing-masing tujuan. Alat evaluasi disimpan pada tahap 2 setelah rumusan
tujuan untuk meyakinkan ketepatan tujuan sesuai dengan kriteria yang telah
ditentukan.
c.
Mengembangkan
kegiatan belajar mengajar, yakni merumuskan semua kemungkinan kegiatan belajar
dan menyeleksi kegiatan belajar perlu ditempuh.
d.
Mengembangkan
program kegiatan pembelajaran yakni merumuskan materi pelajaran, menetapkan
metode dan memilih alat dan sumber pelajaran.
e.
Pelaksanaan
program, yaitu kegiatan mengadakan prates, menyampaikan materi pelajaran,
mengadakan psikotes dan melakukan perbaikan.
C. Analisis
Kebutuhan
1. Konsep
Kebutuhan Pembelajaran
Menurut
Abidin (2007:61) Kesenjangan adalah sebuah permasalahan yang harus dipecahkan
karena itu kesenjangan dijadikan suatu kebutuhan dalam merancang pembelajaran,
sehingga pembelajaran yang dilaksanakan merupakan solusi terbaik. Menurut M.
Atwi Suparman dalam Abidin (2007 : 61) kebutuhan adalah kesenjangan antara
keadaan sekarang dengan yang seharusnya dalam redaksi yang berbeda tapi sama.
Morrison dalam Abidin (2007:61), mengatakan bahwa kebutuhan (need) diartikan sebagai kesenjangan
antara apa yang diharapkan dengan kondisi yang sebenarnya, keinginan adalah
harapan ke depan atau cita-cita yang terkait dengan pemecahan terhadap suatu
masalah. Sedangkan analisa kebutuhan adalah alat untuk mengidentifikasi masalah
guna menentukan tindakan yang tepat. (Morrison dalam Abidin, 2007: 61)
Analisis
kebutuhan merupakan aktivitas ilmiah untuk mengidentifikasi faktor-faktor
pendukung dan menghambat proses pembelajaran guna memilih dan menentukan media
yang tepat dan relevan mencapai tujuan pembelajaran dan mengarah pada
peningkatan mutu pendidikan.
Menurut
Anderson analisis kebutuhan (need
assessment) diartikan sebagai suatu proses kebutuhan sekelaigus menentukan
prioritas.
2. Fungsi
Analisis Kebutuhan
Menurut
Morrison dalam Abidin (2007: 61-62) membagi fungsi analisa kebutuhan sebagai
berikut:
a. Mengidentifikasi
kebutuhan yang relevan dengan pekerjaan atau tugas sekarang yaitu masalah apa
yang mempengaruhi hasil pembelajaran.
b. Mengidentifikasi
kebutuhan mendesak yang terkait dengan finansial, keamanan atau masalah lain
yang menggangu pekerjaan atau lingkungan pendidikan
c. Menyajikan
prioritas-prioritas untuk memilih tindakan.
d. Memberikan
data basis untuk menganalisa efektifitas pembelajaran.
Ada enam macam kebutuhan yang biasa digunakan untuk
merencanakan dan mengadakan analisa kebutuhan (Morrison dalam Abidin, 2007: 62).
a. Kebutuhan
Normatif, Membandingkan peserta didik dengan standar nasional, misal, Ebtanas,
UMPTN, dan sebagainya.
b. Kebutuhan
Komperatif, membandingkan peserta didik pada satu kelompok dengan kelompok lain
yang selevel. Misal, hasil Ebtanas SLTP A dengan SLTP B.
c. Kebutuhan yang dirasakan, yaitu hasrat atau
keinginan yang dimiliki masing-masing peserta didik yang perlu ditingkatkan.
Kebutuhan ini menunjukan kesenjangan antara tingkat ketrampilan/kenyataan yang
nampak dengan yang dirasakan. Cara terbaik untuk mengidentifikasi kebutuhan ini
dengan cara interview.
d. Kebutuhan yang diekspresikan, yaitu kebutuhan
yang dirasakan seseorang mampu diekspresikan dalam tindakan. Misal, siswa yang
mendaftar sebuah kursus.
e. Kebutuhan Masa Depan, Yaitu mengidentifikasi
perubahan-perubahan yang akan terjadi di masa mendatang. Misal, penerapan
teknik pembelajaran yang baru, dan sebagainya.
f. Kebutuhan Insidentil yang mendesak, yaitu
faktor negatif yang muncul di luar dugaan yang sangat berpengaruh. Misal,
bencana nuklir, kesalahan medis, bencana alam, dan sebagainya.
Sedangkan Merrison menjelaskan
empat fungsi analis kebutuhan sebagai berikut:
a. Mengidentifikasi
kebutuhan yang relevan dengan pekerjaan atau tugas sekarang yaitu masalah apa
yang mempengaruhi hasil pembelajaran.
b. Mengidetifikasi
kebutuhan mendesak yang terkait dengan finansial, keamaman atau masalah lain
yang mengganggu pekejaan atau lingkungan pendidikan.
c. Menyajikan
prioritas-prioritas untuk memilih tindakan
d. Memberikan
data basis untuk menganalisis efektifitas pembelajaran.
3. Melakukan Analisis Kebutuhan
Menurut Abidin (2007: 62) Ada empat
tahap dalam melakukan analisa kebutuhan yakni perencanaan, pengumpulan data,
analisa data dan menyiapkan laporan akhir.
a. Perencanaan:
yang perlu dilakukan; membuat klasifikasi siswa, siapa yang akan terlibat dalam
kegiatan dan cara pengumpulannya. (Morrison dalam Abidin 2007: 62)
b. Pengumpulan
data: perlu mempertimbangkan besar kecilnya
sampel dalam penyebarannya (distribusi) (Morrison dalam Abidin 2007 : 62).
c. Analisa
data: setelah data terkumpul kemudian data
dianalisis dengan pertimbangan : ekonomi, rangking, frequensi dan kebutuhan (Ibid
dalam Abidn: 2007:62).
d. Membuat
laporan akhir: dalam sebuah laporan analisa
kebutuhan mencakup empat bagian; analisa tujuan, analisa proses, analisa hasil
dengan table dan penjelasan singkat, rekomendasi yang terkait dengan data.
(Morrison dalam Abidin 2007: 62)
Membicarakan tentang analisis
tujuan tidak bisa dipisahkan dengan inputyang terkait dengan masalah dan proses
analisa kebutuhan
D. Analisis
Karakteristik Siswa
Kegiatan
menganalisis perilaku dan karakteristik siswa dalam mengembangkan pembelajaran
merupakan pendekatan yang menerima siswa apa adanya dan menyusun sistem
pembelajaran atas dasar keadaan siswa tersebut.
Ada
dua karakteristik awal siswa perlu dipahami oleh guru yakni:
1. Latar
belakang akademik mencakup
a. Jumlah
siswa
Guru perlu
memahami beberapaa jumlah siswa yang akan diajar untuk mengetahui apakah
mengajar pada kelas kecil atau kelas besar.
b. Latar
belakang siswa
Pemahaman guru
terhadap latar belakang siswa seperti latar belakang keluarga, tingkat ekonomi,
hobi dan lain sebagainya.
c. Indeks
prestasi
Indeks prestasi
juga menjadi penting untuk diketahui guru, agar materi yang disajikan:
1) Dapat
disesuaikan dengan tingkat prestasi yang homogeny dapat ditempatkan pada kelas
yang sama
2) Bahkan
siswa yang memiliki tingakat prestasi yang homogeny dapat ditempatkan pada
kelas yang sama.
3) Guru
juga bisa mempertimbangkan tingkat keluasan dan kedalaman materi yang
disampaikan dengan prestasi yang dimiliki siswa.
Untuk mengetahui indeks siswa dapat diperoleh
melalui nilai rapot sebelumnya atau seleksi kemampuan awal siswa yang
diselengarakan lembaga
d. Tingkat
intelegsi
Memahami tingkat
intelengsi siswa juga dapat mengukur dan memprediksi:
1) Tingkat
kemampuan mereka dalam memahami materi pembelajaran
2) Mengukur
tingkat kedalaman dan keluasan materi
3) Bahkan
dengan memahami tingkat intelegensi siswa guru dapat menyusun materi, metode,
media, serta tingkat kesulitan evaluasi siswa
4) Tingkat
intelegensi siwa dapat diperoleh melalui tes intelengensi atau tes potensi
akademik (TPA).
e. Keterampilan
membaca
Salah
satu kecakapan yang harus dimiliki siswa dalam belajar adalah keterampilan
membaca, keterampilan adalah menyangkut tentang kemampuan siswa dalam
menyimpulkan secaracepat dan akurat tentang bacaan yang mereka baca.
f. Nilai
ujian
Nilai ujian juga
dapat dijadikan pedoman untuk memahami karaktersitik awal siswa.
g. Kebiasaan
belajar/gaya belajar
Gaya belajar
mengacu pada acara belajar yang lebih disukai siswa. Dalam proses pembelajaran,
banyak siswa mengikutu belajar pada mata pelajaran tertentu, diajar dengan
menggunakan stategi yang sama, akan tetapi mempunyai tingkat pemahaman yang
berbeda. Gaya belajar sering sebagai karaktersitik dan preferensi atau pilihan
individu mengenai cara mengumpulkan informasi, menafsirkan, mengorganisasikan,
merespons, dan memikirkan informasi tersebut.
h. Minat
belajar
Minat belajar
dapat dijadikan sebagai tolak ukur dalam memahami karaktersitik siswa. Hal ini
dilakukan agar guru dapat memprediksi/ atau melihat tingkat antusias siswa
terhadap pelajaran yang disampaikan.
i.
Harapan/keinginan siswa
Hal ini dapat
dilakukan dengan meminta siswa untuk mengemukakan pendapatnya tentang harapan
merekan terhadap mata pelajaran yang akan diberikan, suasan yang diinginkan,
serta tujuan yang diinginkan, serta tujuan yang ingin diperoleh dari mata
pelajaran yang disajikan.
j.
Lapangan kerja/
cita-cita yang dinginkan
Hal ini dapat
dilakukan dengan pengisian anglet. Sehingga berdasarkan informasi ini guru
dapat memberikan bimbingan dan motivasi terhadap siswa dalam upaya pencapaian
cita-cita yang mereka inginkan.
2. Faktor
sosial yang meliputi hal-hal berikut ini:
a. Usia
Memahami usia
siswa akan berpengaruh terhadap pemilihan pendekatan-pedekatan yang akan
dilakukan. Pendekatan belajar yang digunakan terhadap usia kanak-kanak tentu
saja berbeda dengan pendekatan belajar yang digunakankan terhadap anak remaja
atau usia dewasa.
b. Kematangan
Kematangnan
secara psikologi dapat menjadi pertimbangan guru dalam memilihi pendekatan
belajar yang sesuai dengan tingkatusia/kesiapan siswa. Kematangan intelektual
terhadi pada anak usia 6/7 tahun anak sudah mulai berpikir secara logis, baik
dan buruk. Dan pada tahun berikutnya perkembangan dan fungsi intelektual anak
akan menuju kematangan seiring dengan proses pembelajaran yang ia peroleh.
c. Rentangan
perhatian (attention span)
Rentang
perhatian siswa adalah jumlah normal siswa dapat berkonsentrasi dalam mendengarkan
uraian pembelajaran. Rentang perhatian siswa akan menetukan kualitasi informasi
yang akan diperoleh siswa.
d. Bakat-bakat
istimewa
Guru perlu
memahami perbedaan bakat siswa agar dapat dikembangkan secara optimal
e. Hubungan
dengan sesama siswa
Berdasarkan
penelitian ilmiah yang dilakukan hari iini, bahwa interaksi antara guru dan
siswa, siswa dengan yang lainnya tidak lagi menjadi hubungan secara sepihak
tetapi lebih jauh merupakan hububgab emosional dan simpatik lewat prosws
belajar mengajar.
f. Keadaan
sosial ekonomi
secara kasat mata,
dapat diperhatikan bahwa sebagian besar siswa mengalami kendala dalam memahami
kebutuhan sumber belajar sebagai akibat dari rendahnya ekonomi keluarga.
Berkenaan dengan itu, dibutuhkan kreativitas guru dalam membuat/menentukan
sumber belajar dan media yang terjangkau dan tersedia dilingkungan belajar
siswa.