Rabu, 14 Maret 2018

Hakikat Pembelajaran, Model Desain Pembelajaran, Analisis Kebutuhan, dan Karakteristik Siswa


A.    Hakikat Pembelajaran
Pembelajaran merupakan seperangkat tindakan yang dirancang untuk mendukung proses belajar peserta didik, dengan memperhitungkan kejadian-kejadian ektrenal yang berperan terhadap rangkaian kejadian-kejadian eksternal yang berlangsung yang berperan terhadap rangkaian kejadian-kejadian internal yang berlangsung didalam peserta didik. (Windel dalam darto, 2013:7)
Pembejaran dapat didefinisikan sebagai suatu sistem atau proses membelajarkan subjek peserta didik/pembelajar yang direncanakan atau didesain, dilaksanakan, dan dievaluasi secara sistematis agar subjek didik/pembelajaran dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien. (komalasari, 2013:7)
Pembelajaran adalah unsur kombinasi yang tersusun meluputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlenekapan dan prosedur yang saling mempengearuhi mencapai tujuan pembelajaran. (Hamalik, 1994).
Berdasarkan pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran merupakan proses yang dipersiapkan agar peserta didik mengalami proses belajar dan evaluasi sehingga peserta didik mendapatkan makna dalam proses belajar dan tujuan pembelajar dapat tercapai.

B.     Model Desain Pembelajaran
Desain pembelajaran pada dasarnya adalah suatu proses yang bersifat linear yang diawali dari penentuan kebutuhan, kemudian mengembangkan rancangan untuk merespon kebutuhan tersebut, selanjutnya rancangan tersebut diujicobakan dan akhirnya dilakukan proses evaluasi untuk menentukan hasil tentang efektivitas rancangan (desain) yang disusun.
Gagne (1992) menjelaskan bahwa desain pembelajaran disusun untuk membantu proses belajar siswa, dimana proses belajar itu memiliki tahapan segera dan tahapan jangka panjang. Desain pembelajaran sebagai proses rangkaian kegiatan yang bersifat linear tersebut digambarkan oleh Sambangh (2006).
1.      Menentukan kebutuhan
2.      Pengembangan desain untuk menjawab kebutuhan
3.      Uji coba
4.      Evaluasi hasil (kembali lg ke menentukan kebutuhan)
Pada konteks pembelajaran, desain instruksional dapat diartikan sebagai proses yang sistematis untuk memecahkan persoalan pembelajaran melalui proses perencanaan bahan-bahan pembelajaran beserta aktivitas yg harus dilakukan, perencanaan sumber-sumber pembelajaran yang dapat digunakan serta perencanaan evaluasi keberhasilan. Pendekatan yg dapat digunakan dalam desain pembelajaran adalah pendekatan sistem, yang mencakup analisis tentang perencanaan, analisis pengembangan, analisis implementasi dan analisis evaluasi. Gagne (1992) menjelaskan bahwa desain pembelajaran disusun untuk membantu proses belajar siswa, dimana proses itu memiliki tahapan asegera dan tahapan jangka panjang. Menurut Gagne, belajar seseorang dapat dipengaruhi oleh dua faktor, yakni faktor internal dan eksternal.
1.      Faktor internal adalah faktor yg berkaitan dengan kondisi yang dibawa atau datang dari dalam individu siswa, seperti kemampuan dasar, gaya belajar seseorang, minat dan bakat serta kesiapan setiap individu yang belajar.
2.      Faktor eksternal adalah faktor yang datang dari luar individu, yakni berkaitan dengan penyediaan kondisi atau lingkungan yang didesain agar siswa belajar. Desain pembelajaran berkaitan dengan faktor eksternal ini, yakni pengaturan lingkungan dan kondisi yg memungkinkan siswa dapat belajar. 
Desain instruksional berkenaan dengan proses pembelajaran yg dapat dilakukan siswa untuk mempelajari suatu materi pelajaran yg di dalamnya mencakup rumusan tujuan yg harus dicapai atau hasil belajar yg diharapkan, rumusan strategi yg dapat dilaksanakan untuk mencapai tujuan termasuk metode, teknik dan media yg dapat dimanfaatkan serta teknik evaluasi untuk mengukur atau menentukan keberhasilan pencapaian tujuan. Mendesain pembelajaran harus diawali dengan studi kebutuhan, karena berkenaan dengan upaya untuk memecahkan persoalan yg berkaitan dengan proses pembelajaran siswa dalam mempelajari suatu bahan atau materi pembelajaran.
Kriteria desain instruksional
Desain instruksional yg baik harus memiliki beberapa kriteria diantaranya:
a.       Berorientasi pada siswa
Ketika kita mendesain pembelajaran, maka pertanyaan pertama yang harus kita ajukan adalah bagaimana desain yg kita kembangkan itu mampu membantu siswa dalam mempelajari bahan pembelajara dan memudahkan siswa belajar. Beberapa hal yg perlu dipahami tentang siswa diantaranya:
1)        Kemampuan dasar
Pemahaman kemampuan dasar yg dimiliki siswa perlu dipahami untuk menentukan dari mana sebaiknya kita mulai mendesain pembelajaran. Dalam menentukan tujuan pembelajaran yg harus dicapai selamanya disesuaikan dengan kemampuan yg telah atau harus dimiliki terlebih dahulu oleh setiap siswa. Sehingga desain pembelajaran dirancang sesuai dengan potensi dan kompetensi yang telah dimiliki oleh siswa. Dengan kata lain desain tidak dirancang semata-mata oleh kemauan guru saja.
2)      Gaya belajar
Gaya belajar ada 3 tipe, yakni tipe auditif, tipe visual, dan tipe kinestetis. Siswa yg bertipe auditif akan dapat menangkap informasi lebih banyak melalui pendengaran. Dengan demikian maka desain pembelajaran dirancang agar  siswa banyak mendengar melalui berbagai media yang dapat di dengar seperti radio, recorder, video dll.
b.      Berpijak pada pendekatan sistem
Melalui pendekatan sistem bukan saja dapat diprediksi keberhasilannya, akan tetapi juga akan terhindar dari ketidakpastian. Hal ini disebabkan karena melalui pendekatan sistem dari awal sudah diantisipasi berbagai kendala yg mungkin dapat menghambat terhadap pencapaian tujuan. Atas dasar itulah maka pendekatan sistem dalam desain instruksional merupakan pendekatan ideal yg dapat dilakukan oleh para desainer pembelajaran.
c.       Teruji secara empiris
Sebelum digunakan, sebuah desain instruksional harus teruji dahulu efektivitas dan efisiensinya secara empiris. Melalui pengujian secara empiris dapat dilihat berbagai kelemahan dan berbagai kendala yg mungkin muncul sehingga jauh sebelumnya dapat diantisipasi. Selain itu melalui pengkajian secara ilmiah dapat meyakinkan para pengembang pembelajaran untuk menggunakannya.
Hubungan perencanaan dan desain pembelajaran
Perencanaan merupakan kegiatan menerjemahkan kurikulum sekolah ke dalam kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Perencanaan pembelajaran dapat berupa perencanaan perhari, perminggu, persemester, pertahun sesuai dengan tujuan kurikulum yg hendak dicapai.
Perencanaan lebih menekankan pada proses pengembangan atau penerjemahan suatu kurikulum sekolah, sedangkan desain menekankan pada proses merancang program pembelajaran untuk membantu proses belajar siswa. Dengan demikian, pertimbangan dalam menyusun dan mengembangkan sebuah perencanaan pembelajaran adalah kurikulum yang berlaku di suatu lembaga. Sedangkan, pertimbangan dalam menyusun dan mengembangkan suatu desain pembelajaran adalah siswa itu sendiri sebagai individu yang akan belajar dan mempelajari bahan pelajaran. Artinya ketika kita akan menyusun dan mengembangkan sebuah perencanaan pembelajaran, maka kita perlu bertanya terlebih dahulu bagaimana desain kurikulum yang ada di lembaga pendidikan. Sedangkan, kalau kita menyusun dan mengembangkan sebuah desain pembelajaran kita perlu bertanya bagaimana agar siswa dapat mempelajari suatu bahan pelajaran dengan mudah.
Model-model Desain Instruksional
Beberapa model desain yang dikembangkan oleh para ahli:
1.      Model Kemp
Model desain sistem instruksional yg dikembangkan oleh Kemp merupakan model yg membentuk siklus. Menurut Kemp, pengembangan desain sistem pembelajaran terdiri atas komponen2 yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan, tujuan dan berbagai kendala yang timbul. Mengembangkan sistem instruksional, menurut Kemp dari mana saja bisa, asalkan urutan komponen tidak diubah dan setiap komponen itu memerlukan revisi untuk mencapai hasil yg maksimal. Komponen-komponen dalam suatu desain instruksional menurut Kemp adalah:
a.       Hasil yang ingin dicapai
b.      Analisis tes mata pelajaran
c.       Tujuan khusus belajar
d.      Aktivitas belajar
e.       Sumber belajar
f.       Layanan pendukung
g.      Evaluasi belajar
h.      Tes awal
i.        Karakteristik belajar
Kesembilan komponen itu merupakan suatu siklus yang terus-menerus direvisi setelah dievaluasi baik evaluasi sumatife maupun formatife dan diarahkan untuk menentukan kebutuhan siswa, tujuan yang ingin dicapai, prioritas, dan berbagai kendala yang muncul.
2.         Model Banathy
Model ini memandang bahwa penyusunan sistem instruksional dilakukan melalui tahapan-tahapan yang jelas. Terdapat 6 tahapan dalam mendesain suatu program pembelajaran yakni:
a.       Menganalisis dan merumuskan tujuan, baik tujuan pengembangan sistem maupun pengembangan spesifik. Tujuan merupakan sasaran dan arah yang harus dicapai oleh siswa atau peserta didik.
b.      Merumuskan kriteria tes yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Item tes dalam tahap ini dirumuskan untuk menilai perumusan tujuan. Melalui rumusan tes dapat menyakinkan kita bahwa setiap tujuan ada alat untuk menilai keberhasilannya.
c.       Menganalisis dan merumuskan kegiatan belajar, yakni kegiatan menginventarisasi seluruh kegiatan belajar mengajar, menilai kemampuan penerapannya sesuai dengan kondisi yang ada serta menentukan kegiatan yang mungkin dapat diterapkan.
d.      Merancang sistem, yaitu kegiatan menganalisis sistem menganalisis setiap komponen sistem, mendistribusikan dan mengatur penjadwalan.
e.       Mengimplementasikan dan melakukan kontrol kualitas sistem, yakni melatih sekaligus menilai efektivitas sistem, melakukan penempatan dan melaksanakan evaluasi
f.       Mengadakan perbaikan dan perubahan berdasarkan hasil evaluasi.
Langka 1 s.d 4 merupakan tahapan dalam proses perencanaan, sedangkan tahap 5 s.d 6 adalah tahap pelaksanaan dari perencanaan yang sudah dirumuskan.
3.      Model Dick and Cery
Menurut model ini sebelum desainer merumuskan tujuan khusus yakni performance goals, perlu menganalisis pembelajaran serta menentukan kemampuan awal siswa terlebih dahulu. Manakala telah dirumuskan tes dalam bentuk Criterion Reference Test, artinya tes yang mengukur kemampuan penguasaan tujuan khusus. Untuk mencapai tujuan khusus selanjutnya dikembangkan strategi pembelajaran, yakni skenario pelaksanaan pembelajaran yang diharapkan dapat mencapai tujuan secara optimal, setelah itu dikembangkan bahan-bahan pembelajaran yang sesuai dengan tujuan. Langkah terakhir dari desain ini adalah melakukan evaluasi, yakni evaluasi formatife dan evaluasi sumative.
Evaluasi formatife berfungsi untuk menilai efektivitas program dan evaluasi sumatife berugnsi untuk menentukan kedudukan setiap siswa dalam penguasaan materi pelajaran. Berdasarkan hasil evaluasi inilah selanjutnya dilakukan umpan balik dalam merevisi program pembelajaran.
4.      Model PSSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional)
Model PSSI adalah model yang dikembangkan di Indonesia untuk mendukung pelaksanaan kurikulum 1975. PSSI berfungsi untuk mengefektifkan perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran secara sistematis, untuk dijadikan sebagai pedoman bagi guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar.
PSSI terdiri dari 5 tahap, yakni:
a.       Merumuskan tujaun, yakni kemampuan yang harus dicapai oleh siswa. Ada 4 syarat dalam perumusan tujuan ini yakni harus operasional, artinya tujuan yang dirumuskan harus spesifik atau dapat diukur, berbentuk hasil belajar bukan proses belajar, berbentuk perubahan tingkah laku dan dalam setiap rumusan tujuan hanya satu bentuk tingkah laku.
b.      Mengembangkan alat evaluasi, yakni menentukan jenis tes dan menyusun item soal untuk masing-masing tujuan. Alat evaluasi disimpan pada tahap 2 setelah rumusan tujuan untuk meyakinkan ketepatan tujuan sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan.
c.       Mengembangkan kegiatan belajar mengajar, yakni merumuskan semua kemungkinan kegiatan belajar dan menyeleksi kegiatan belajar perlu ditempuh.
d.      Mengembangkan program kegiatan pembelajaran yakni merumuskan materi pelajaran, menetapkan metode dan memilih alat dan sumber pelajaran.
e.       Pelaksanaan program, yaitu kegiatan mengadakan prates, menyampaikan materi pelajaran, mengadakan psikotes dan melakukan perbaikan.

C.     Analisis Kebutuhan
1.      Konsep Kebutuhan Pembelajaran
Menurut Abidin (2007:61) Kesenjangan adalah sebuah permasalahan yang harus dipecahkan karena itu kesenjangan dijadikan suatu kebutuhan dalam merancang pembelajaran, sehingga pembelajaran yang dilaksanakan merupakan solusi terbaik. Menurut M. Atwi Suparman dalam Abidin (2007 : 61) kebutuhan adalah kesenjangan antara keadaan sekarang dengan yang seharusnya dalam redaksi yang berbeda tapi sama. Morrison dalam Abidin (2007:61), mengatakan bahwa kebutuhan (need) diartikan sebagai kesenjangan antara apa yang diharapkan dengan kondisi yang sebenarnya, keinginan adalah harapan ke depan atau cita-cita yang terkait dengan pemecahan terhadap suatu masalah. Sedangkan analisa kebutuhan adalah alat untuk mengidentifikasi masalah guna menentukan tindakan yang tepat. (Morrison dalam Abidin, 2007: 61)
Analisis kebutuhan merupakan aktivitas ilmiah untuk mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan menghambat proses pembelajaran guna memilih dan menentukan media yang tepat dan relevan mencapai tujuan pembelajaran dan mengarah pada peningkatan mutu pendidikan.
Menurut Anderson analisis kebutuhan (need assessment) diartikan sebagai suatu proses kebutuhan sekelaigus menentukan prioritas.
2.      Fungsi Analisis Kebutuhan
Menurut Morrison dalam Abidin (2007: 61-62) membagi fungsi analisa kebutuhan sebagai berikut:
a.       Mengidentifikasi kebutuhan yang relevan dengan pekerjaan atau tugas sekarang yaitu masalah apa yang mempengaruhi hasil pembelajaran.
b.      Mengidentifikasi kebutuhan mendesak yang terkait dengan finansial, keamanan atau masalah lain yang menggangu pekerjaan atau lingkungan pendidikan
c.       Menyajikan prioritas-prioritas untuk memilih tindakan.
d.      Memberikan data basis untuk menganalisa efektifitas pembelajaran.
Ada enam macam kebutuhan yang biasa digunakan untuk merencanakan dan mengadakan analisa kebutuhan (Morrison dalam Abidin, 2007: 62).
a.       Kebutuhan Normatif, Membandingkan peserta didik dengan standar nasional, misal, Ebtanas, UMPTN, dan sebagainya.
b.      Kebutuhan Komperatif, membandingkan peserta didik pada satu kelompok dengan kelompok lain yang selevel. Misal, hasil Ebtanas SLTP A dengan SLTP B.
c.        Kebutuhan yang dirasakan, yaitu hasrat atau keinginan yang dimiliki masing-masing peserta didik yang perlu ditingkatkan. Kebutuhan ini menunjukan kesenjangan antara tingkat ketrampilan/kenyataan yang nampak dengan yang dirasakan. Cara terbaik untuk mengidentifikasi kebutuhan ini dengan cara interview.
d.       Kebutuhan yang diekspresikan, yaitu kebutuhan yang dirasakan seseorang mampu diekspresikan dalam tindakan. Misal, siswa yang mendaftar sebuah kursus.
e.        Kebutuhan Masa Depan, Yaitu mengidentifikasi perubahan-perubahan yang akan terjadi di masa mendatang. Misal, penerapan teknik pembelajaran yang baru, dan sebagainya.
f.        Kebutuhan Insidentil yang mendesak, yaitu faktor negatif yang muncul di luar dugaan yang sangat berpengaruh. Misal, bencana nuklir, kesalahan medis, bencana alam, dan sebagainya.
Sedangkan Merrison menjelaskan empat fungsi analis kebutuhan sebagai berikut:
a.       Mengidentifikasi kebutuhan yang relevan dengan pekerjaan atau tugas sekarang yaitu masalah apa yang mempengaruhi hasil pembelajaran.
b.      Mengidetifikasi kebutuhan mendesak yang terkait dengan finansial, keamaman atau masalah lain yang mengganggu pekejaan atau lingkungan pendidikan.
c.       Menyajikan prioritas-prioritas untuk memilih tindakan
d.      Memberikan data basis untuk menganalisis efektifitas pembelajaran.

3.      Melakukan Analisis Kebutuhan
Menurut Abidin (2007: 62) Ada empat tahap dalam melakukan analisa kebutuhan yakni perencanaan, pengumpulan data, analisa data dan menyiapkan laporan akhir.
a.       Perencanaan: yang perlu dilakukan; membuat klasifikasi siswa, siapa yang akan terlibat dalam kegiatan dan cara pengumpulannya. (Morrison dalam Abidin  2007: 62)
b.      Pengumpulan data: perlu mempertimbangkan besar kecilnya sampel dalam penyebarannya (distribusi) (Morrison dalam Abidin 2007 : 62).
c.       Analisa data: setelah data terkumpul kemudian data dianalisis dengan pertimbangan : ekonomi, rangking, frequensi dan kebutuhan (Ibid dalam Abidn: 2007:62).
d.      Membuat laporan akhir: dalam sebuah laporan analisa kebutuhan mencakup empat bagian; analisa tujuan, analisa proses, analisa hasil dengan table dan penjelasan singkat, rekomendasi yang terkait dengan data. (Morrison dalam Abidin 2007: 62)
Membicarakan tentang analisis tujuan tidak bisa dipisahkan dengan inputyang terkait dengan masalah dan proses analisa kebutuhan

D.    Analisis Karakteristik Siswa
Kegiatan menganalisis perilaku dan karakteristik siswa dalam mengembangkan pembelajaran merupakan pendekatan yang menerima siswa apa adanya dan menyusun sistem pembelajaran atas dasar keadaan siswa tersebut.
Ada dua karakteristik awal siswa perlu dipahami oleh guru yakni:
1.      Latar belakang akademik mencakup
a.       Jumlah siswa
Guru perlu memahami beberapaa jumlah siswa yang akan diajar untuk mengetahui apakah mengajar pada kelas kecil atau kelas besar.
b.      Latar belakang siswa
Pemahaman guru terhadap latar belakang siswa seperti latar belakang keluarga, tingkat ekonomi, hobi dan lain sebagainya.
c.       Indeks prestasi
Indeks prestasi juga menjadi penting untuk diketahui guru, agar materi yang disajikan:
1)      Dapat disesuaikan dengan tingkat prestasi yang homogeny dapat ditempatkan pada kelas yang sama
2)      Bahkan siswa yang memiliki tingakat prestasi yang homogeny dapat ditempatkan pada kelas yang sama.
3)      Guru juga bisa mempertimbangkan tingkat keluasan dan kedalaman materi yang disampaikan dengan prestasi yang dimiliki siswa.
Untuk mengetahui indeks siswa dapat diperoleh melalui nilai rapot sebelumnya atau seleksi kemampuan awal siswa yang diselengarakan lembaga
d.      Tingkat intelegsi
Memahami tingkat intelengsi siswa juga dapat mengukur dan memprediksi:
1)      Tingkat kemampuan mereka dalam memahami materi pembelajaran
2)      Mengukur tingkat kedalaman dan keluasan materi
3)      Bahkan dengan memahami tingkat intelegensi siswa guru dapat menyusun materi, metode, media, serta tingkat kesulitan evaluasi siswa
4)      Tingkat intelegensi siwa dapat diperoleh melalui tes intelengensi atau tes potensi akademik (TPA).
e.       Keterampilan membaca
Salah satu kecakapan yang harus dimiliki siswa dalam belajar adalah keterampilan membaca, keterampilan adalah menyangkut tentang kemampuan siswa dalam menyimpulkan secaracepat dan akurat tentang bacaan yang mereka baca.
f.       Nilai ujian
Nilai ujian juga dapat dijadikan pedoman untuk memahami karaktersitik awal siswa.
g.      Kebiasaan belajar/gaya belajar
Gaya belajar mengacu pada acara belajar yang lebih disukai siswa. Dalam proses pembelajaran, banyak siswa mengikutu belajar pada mata pelajaran tertentu, diajar dengan menggunakan stategi yang sama, akan tetapi mempunyai tingkat pemahaman yang berbeda. Gaya belajar sering sebagai karaktersitik dan preferensi atau pilihan individu mengenai cara mengumpulkan informasi, menafsirkan, mengorganisasikan, merespons, dan memikirkan informasi tersebut.
h.      Minat belajar
Minat belajar dapat dijadikan sebagai tolak ukur dalam memahami karaktersitik siswa. Hal ini dilakukan agar guru dapat memprediksi/ atau melihat tingkat antusias siswa terhadap pelajaran yang disampaikan.
i.        Harapan/keinginan siswa
Hal ini dapat dilakukan dengan meminta siswa untuk mengemukakan pendapatnya tentang harapan merekan terhadap mata pelajaran yang akan diberikan, suasan yang diinginkan, serta tujuan yang diinginkan, serta tujuan yang ingin diperoleh dari mata pelajaran yang disajikan.
j.        Lapangan kerja/ cita-cita yang dinginkan
Hal ini dapat dilakukan dengan pengisian anglet. Sehingga berdasarkan informasi ini guru dapat memberikan bimbingan dan motivasi terhadap siswa dalam upaya pencapaian cita-cita yang mereka inginkan.
2.      Faktor sosial yang meliputi hal-hal berikut ini:
a.       Usia
Memahami usia siswa akan berpengaruh terhadap pemilihan pendekatan-pedekatan yang akan dilakukan. Pendekatan belajar yang digunakan terhadap usia kanak-kanak tentu saja berbeda dengan pendekatan belajar yang digunakankan terhadap anak remaja atau usia dewasa.
b.      Kematangan
Kematangnan secara psikologi dapat menjadi pertimbangan guru dalam memilihi pendekatan belajar yang sesuai dengan tingkatusia/kesiapan siswa. Kematangan intelektual terhadi pada anak usia 6/7 tahun anak sudah mulai berpikir secara logis, baik dan buruk. Dan pada tahun berikutnya perkembangan dan fungsi intelektual anak akan menuju kematangan seiring dengan proses pembelajaran yang ia peroleh.
c.       Rentangan perhatian  (attention span)
Rentang perhatian siswa adalah jumlah normal siswa dapat berkonsentrasi dalam mendengarkan uraian pembelajaran. Rentang perhatian siswa akan menetukan kualitasi informasi yang akan diperoleh siswa.
d.      Bakat-bakat istimewa
Guru perlu memahami perbedaan bakat siswa agar dapat dikembangkan secara optimal
e.       Hubungan dengan sesama siswa
Berdasarkan penelitian ilmiah yang dilakukan hari iini, bahwa interaksi antara guru dan siswa, siswa dengan yang lainnya tidak lagi menjadi hubungan secara sepihak tetapi lebih jauh merupakan hububgab emosional dan simpatik lewat prosws belajar mengajar.
f.       Keadaan sosial ekonomi
secara kasat mata, dapat diperhatikan bahwa sebagian besar siswa mengalami kendala dalam memahami kebutuhan sumber belajar sebagai akibat dari rendahnya ekonomi keluarga. Berkenaan dengan itu, dibutuhkan kreativitas guru dalam membuat/menentukan sumber belajar dan media yang terjangkau dan tersedia dilingkungan belajar siswa.


Hakikat Pembelajaran, Model Desain Pembelajaran, Analisis Kebutuhan, dan Karakteristik Siswa

A.     Hakikat Pembelajaran Pembelajaran merupakan seperangkat tindakan yang dirancang untuk mendukung proses belajar peserta didik, d...